Senin, 28 November 2016

Solo Jadi Pusat Gerakan dan Kaderisasi Militan pro ISIS di Indonesia?

Petugas antiteror Indonesia khawatir, Surakarta (Solo) sudah menjadi pusat gerakan dan kaderisasi jihadis pro ISIS di Indonesia. Hampir semua pelaku terorisme atas nama Islam punya kaitan dengan Solo.
Indonesien Selbstmordanschlag in Solo
Selama baku tembak pada Mei 2011, seorang pemimpin sel militan Sigit Qurdowi tewas. Dia diduga berada di balik serangkaian upaya bom yang gagal di sekitar kota Solo di Jawa Tengah. Sigit adlah pendiri sel teror "Tim Hisbah".
Tewasnya pentolan militan Islam itu membuat kelompoknya terpencar. Ada yang membentuk sel teror baru, yang lain bergabung dibawah kelompok pimpinan Bahrun Naim, yang disebut-sebut sebagai koordinator ISIS untuk kawasan Asia Tenggara dan sekarang ada di Suriah. Sekarang, lima tahun kemudian, kelompok Bahrun Naim dianggap sel yang punya kapasitas paling canggih untuk melancarkan serangan teror.
Solo memang punya sejarah panjang dengan gerakan Islam radikal. Kota itu menjadi salah satu pusat perekrutan relawan-relawan militan. Banyak pemimpin gerakan ini berasal dari pecahan Tim Hisbach, kata seorang pejabat antiteror kepada kantor berita Reuters.
Kota Solo dulu sempat disebut-sebut sebagai pusat gerakan militan Islam, dengan ideolognya Abu Bakar Ba'asyir, yang memimpin pondok pesantren Al Ngruki dan ikut mendirikan kelompok teror Jemaah Islamiyah. Sebagian pelaku teror bom Bali tahun 2012 berasal dari pesantren ini. Ba'asyir sendiri berulangkali menyatakan simpatinya kepada gembong teroris Osama bin Ladin dan jaringan Al Qaida.
Indonesien Selbstmordanschlag in Solo
Polisi membawa jenazah Nur Rohman yang meledakkan diri di Mapolresta Solo, awal Juli 2016
Upaya pemerintah Indonesia memukul mundur gerakan Jemaah Islamiyah dan Al Qaida di Indonesia termasuk cukup berhasil. Banyak pimpinan kelompok dan anggotanya yang tewas atau tertangtakp dalam operasi satuan Antiteror Densus 88. Selama bertahun-tahun, Jemaah Islamiyah dan Al Qaida terlihat lumpuh.
Tapi munculnya ISIS di Irak dan Suriah menghidupkan kembali gerakan militan Islam di Indonesia yang tadinya terpecah-pecah. ISIS dan Bahrun Naim menyebarkan gagasan mereka lebih canggih lagi dan sempat melancarkan rangkaian aksi teror di Asia Tenggara.
Pejabat kontra-terorisme Indonesia menyatakan, sejak 2014 hingga kini sekitar 800.000 dolar AS sudah dtransfer dari luar negeri untuk mendanai kelompok-kelompok Islam radikal di Indonesia. Dari jumlah itu, memang belum jelas berapa uang yang datang dari Bahrun Naim.
Kantor berita Reuters pernah menghubungi seorang pria yang diidentifikasi sebagai Bahrun Naim November lalu lewat aplikasi Telegram, menggunakan data-data yang diberikan oleh salah satu kenalannya. Dalam percakapan itu, Naim mengatakan ISIS punya "cukup orang di Indonesia untuk melaksanakan aksi, dukungan ada lebih dari cukup. Tinggal menunggu pemicu yang tepat." Identitas orang itu dan pernyataannya memang tidak bisa diverifikasi secara langsung dan independen oleh Reuters.
Indonesien Selbstmordanschlag in Jakarta
Polisi berjaga-jaga di Mapolresta Solo setelah aksi bom bunuh diri yang melukai satu anggota kepolisian (Juli 2016)
Booming Gerakan Jihadis
Amir Mahmud, mantan mujahidin Afghanistan, membentuk Forum Pendukung ISIS di Solo bulan Juli 2014. Tujuannya "mengakomodasi pengembangan" gerakan jihad di Indonesia, kata dia. Sekitar 2.000 orang muncul pada pertemuan pertama di Masjid Makmur Baitul, tambahnya.
"Ini adalah panggilan spiritual spontan," kata Mahmud, yang juga seorang dosen sebuah universitas Islam. "ISIS adalah gerakan yang sedang booming."
Mahmud menceritakan, dua putranya meninggalkan Indonesia untuk berjuang bersama ISIS di Timur Tengah. Satu orang anak sejak itu telah tewas. Indonesia memang tidak melarang warganya mendukung kelompok teror seperti ISIS, atau pergi ke laur negeri untuk bergabung dengan kelompok teror itu.
Polisi mengatakan, mereka hanya dapat menangkap tersangka terorisme kalau sudah melakukan kejahatan di bumi Indonesia.
"Kalau ada orang menyatakan dukungan untuk ISIS, itu menjadi bukti awal bagi polisi untuk menyelidiki apakah mereka terlibat dalam suatu kelompok atau kegiatan teroris," kata Freddy Haris, Direktur Jendral bidang hukum di Kementerian Kehakiman kepada Reuters. "Jika ada bukti mereka terlibat, maka kita lanjutkan dengan tindakan (hukum)."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar